Dalam upaya mendukung pemulihan psikologis siswa pascabencana banjir bandang, tim dosen dari Universitas Medan Area melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Integrasi Kecerdasan Majemuk dan Teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk Deteksi Dini Gejala Trauma pada Siswa Pascabencana Banjir Bandang” di Madrasah Aliyah Negeri 2 Aceh Tamiang pada 13 Mei 2026.

Kegiatan ini dipimpin oleh Prof. Hasanuddin bersama Ketua Program Studi Magister Informatika Dr. Sayuti Rahman, S.T., M.Kom dan dosen psikologi Sairah, S.Psi., M.Psi. Program ini menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pemulihan kesehatan mental siswa terdampak bencana melalui pendekatan multidisipliner yang menggabungkan teknologi, psikologi, dan pendidikan.
Dalam pelaksanaannya, tim PKM memberikan edukasi mengenai pentingnya deteksi dini gejala trauma pada remaja pascabencana. Melalui pendekatan kecerdasan majemuk (multiple intelligences), siswa diajak mengenali kondisi emosional mereka melalui berbagai aktivitas interaktif seperti diskusi kelompok, refleksi diri, permainan edukatif, dan pengenalan teknologi berbasis AI yang mampu membantu mengidentifikasi indikasi awal stres dan trauma psikologis.

Menurut Dr. Sayuti Rahman, S.T., M.Kom, pemanfaatan teknologi AI dalam bidang pendidikan dan kesehatan mental memiliki potensi besar untuk membantu guru maupun tenaga pendamping dalam mengenali perubahan perilaku siswa secara lebih cepat dan terukur. “Teknologi bukan hanya digunakan untuk pembelajaran, tetapi juga dapat menjadi alat bantu kemanusiaan dalam mendeteksi kondisi psikologis siswa sejak dini,” ujarnya.
Sementara itu, Sairah, S.Psi., M.Psi menjelaskan bahwa dampak psikologis pascabencana sering kali tidak terlihat secara langsung, terutama pada anak dan remaja. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang humanis dan adaptif agar siswa merasa aman untuk mengekspresikan emosinya.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari pihak sekolah dan para siswa. Selain meningkatkan pemahaman mengenai kesehatan mental, program ini juga diharapkan mampu membangun ketahanan psikologis siswa serta memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam penanganan dampak bencana.

Program pengabdian ini sejalan dengan berbagai upaya pemulihan psikososial pascabencana yang saat ini terus dilakukan di wilayah Aceh Tamiang, khususnya bagi anak-anak dan remaja terdampak banjir bandang.

